My Moments with Some Educations

Pages

Sunday, 18 December 2016

Makalah Peran Guru PAI di Masyarakat Urban dan Masyarakat Agraris

dhuha-mind.blogspot.com
Guru PAI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mendidik bukan hanya dilakukan di bangku sekolah saja namun diperlukannya peran pendidik dalam mengoptimalkan pengajaran di area yang lebih luas. Kompetensi-kompetensi yang menjadi pedoman pendidik mengharuskan pendidik bekerja lebih luas lagi untuk membuktikan bahwa peran guru dalam mendidik semata-mata bukan hanya di sekitar lingkup sekolah melainkan lingkup masyarakat juga perlu dipertimbangkan. Dalam pembahasan selanjutnya penulis akan membahas lebih dalam mengenai peran guru dalam masyarakat urban dan masyarakat agraris dari segi antropologi-sosiologinya. 

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris ?
2. Apa perbedaan antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris ?
3. Bagaimana peran guru PAI dalam antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris.
2. Untuk mengetahui perbedaan antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris.
3. Untuk mengetahui peran guru PAI dalam antropologi-sosiologi masyarakat urban dan masyarakat agraris.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
1. Antropologi-sosiologi Masyarakat Urban
Kota adalah pusat kehidupan yang dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang pendekatan. Aspek tersebut memberikan gambaran bahwa kota menjadi tempat manusia atau masyarakat berperilaku mengisi aktifitas kehidupannya sehari-hari. Dengan berperilaku manusia dapat dilihat melalui teropong sosiologi maupun antropologinya, atau dapat juga dilihat dari aspek fisik perkotaan yang akan memberikan kontribusi pada perilaku sosio-antropologinya (manusia dan struktur sosialnya). Antropologi, lebih pada pertalian keluarga dan kelompok yang similar terkait dengan urban setting. Kota-kota di Afrika Barat, kehidupan perkotaan hampir keseluruhannya diorganisasi oleh klan (marga) dan kesukuan. Hal itu juga terdapat di Indonesia, China, dan Taiwan. Pengertian kota berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Kota adalah permukiman yang permanen relatif luas, penduduknya padat serta heterogen, dan memiliki organisasi-organisasi politik, ekonomi, agama, dan budaya. 
2. Antropologi-sosiologi Masyarakat Agraris/Pedesaan
Secara antropologisnya, masyarakat pedesaan menurut Paul H. Landis (1948) menyebutkan ciri- ciri kebudayaan tradisonal  :
a. Pengaruh alam yang kuat juga mengakibatkan standar moral yang kaku, sehingga moralitas bagi masyarakat perdesaan merupakan hal yang bersifat absolut.
b. Kuatnya pengaruh alam terlihat pada pola kebiasaan hidup yang lamban (inertia), sehingga masyarakat desa sering dinilai statis.
c. Dominasi alam terhadap masyarakat desa juga mengakibatkan tebalnya kepercayaan mereka terhadap takhayul.
Masyarakat desa pada umumnya masih memegang norma-norma agama secara kuat. Pola hidup di desa juga masih dipengaruhi tradisi yang sangat kental dan masih memegang teguh budaya daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya asli di daerahnya. Contohnya misalnya ada remaja putra membawa remaja putri kerumah harus pada waktu yang ditentukan masyarakat. Jika melewati jam yang ditentukan, akan dikenakan sanksi.
Sedangkan secara sosiologisnya, masyarakat perdesaan umumya masih menjunjung tinggi nilai kekerabatan, gotong royong dan kebersamaan. Rasa solidaritas antara anggota masyarakat perdesaan sangat kuat. Contohnya jika pada saat ada hajatan, mereka semua ikhlas membantu memeriahkan hajatan tersebut.

B. Perbedaan Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
Dalam  peradaban modern, dominasi kota telah diidentifikasikan dengan dua fenomena. Pertama, kontak-kontak kota dan desa telah menjadi jauh lebih berat dan lebih banyak, dibandingkan dengan sebelumnya. Kedua, penduduk urban atau kota semakin besar bila dibandingkan dengan desa, dan hampir semua negara industri yang telah maju, bagian terbesar penduduknya, dalam beberapa hal, adalah urban. 
Di negara-negara yang sudah maju, aspek-aspek kehidupan penduduknya telah kabur perbedaannya. Hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi, dan tingginya pendapatan, sehingga gaya hidup maupun gaya berpikir penduduk perkotaan maupun pedesasaan dapat dikatakan hampir berbeda. Yang masih berbeda hanyalah yang menyangkut lingkungan hidup, di mana penduduk pedesaan masih dapat menikamati kehidupan alam yang longgar dan luas, sementara penduduk perkotaan harus hidup dalam suasan yang berdesak-desakan dan artifisial (buatan).
Sebaliknya, di negara-negara yang sedang berkembang, perbedaan-perbedaan kehidupan kota dan desa masih cukup besar, bahwa penetrasi urban telah cukup jauh sampai ke pedalaman negeri. Namun, masalah perbedaan tingkat pendidikan merupakan kendala dan hambatan terjadinya pembaruan yang positif. Penetrasi kehidupan kota ke desa-desa yang mampu ditiru oleh penduduk pedesan lebih bersifat konsumtif, sehingga penetrasi tersebut lebih bersifat dominasi, seperti telah diuraikan diatas.  

C. Peran Dan Kedudukan Guru PAI Dalam Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
Guru dalam masyarakat adalah sebagai pemimpin yang menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat sekitar. Mereka adalah pemegang norma dan nilai-nilai yang harus dijaga dan dilaksanakan. S. Nasution mengatakan, bah- wa di masyarakat, guru harus selalu sadar akan kedudukannya selama 24 jam sehari. Di mana dan kapan saja, ia akan selalu di pandang sebagai guru yang harus memperlihatkan kelakuan yang dapat ditiru oleh masyarakat, khususnya peserta didiknya. Masyarakat tidak dapat membenarkan pelanggaran-pelang- garan, seperti berjudi, mabuk, apalagi jika perbuatan itu dilakukan oleh guru. Hal itu akan dianggap sangat serius. Dalam masyarakat, muncul anggapan bahwa orang yang kurang bermoral tidak akan mungkin menghasilkan peserta didik yang mempunyai etika tinggi .
Persoalan peranan guru memang dilematis. Pada suatu sisi guru dituntut sebagai agen pembaruan, tetapi di sisi lain nasib sebagian para guru belum tersentuh kesejahteraan. Status sosial mereka dihormati dan diakui sebagai jabatan profesional, namun penghargaan secara ekonomis belum merata. Sebagian mereka belum bisa mengandalkan penghasilannya sebagai guru untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarganya yang paling primer, sehingga mereka tidak bisa fokus pada pekerjaannya sebagai guru. Hal ini akan sangat menggangngu peningkatan kualitas pendidikan yang sekaligus menghambat kualitas sumber daya manusia bangsa ini.
Solusi yang dapat dilakukan adalah tingkatkan kesejahteraan guru seca- ra merata di seluruh tanah air dan pada saat yang bersamaan guru dituntut untuk meningkatkan kualitas profesional yakni :
a.  Memiliki kualitas kepribadian;
b.  Memiliki pengetahuan dan pemahaman profesi kependidikan;
c.  Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bidang spesialisasi;
d.  Memiliki kemampuan dan keterampilan profesi.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah mengatakan bahwa sehubungan dengan peranan guru sebagai “Pengajar”, “Pendidik” dan “Pembimbing”, juga masih ada berbagai peranan guru lainnya. Dan peranan guru ini senantiasa akan menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, guru maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang guru sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak di curahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya 
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya “Guru Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, menyebutkan peranan guru agama Islam adalah seperti diuraikan di bawah ini :
1. Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda itu harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural masyarakat dimana anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya.
Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya, berarti guru telah mengabaikan peranannya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didik. Koreksi yang harus guru lakukan terhadap sikap dan sifat anak didik tidak hanya disekolah, tetapi diluar sekolah pun harus dilakukan.
2. Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, tetapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi anak didik.
3. Informator
Sebagai informatory, guru harus bisa memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informatory yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kunci, ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.
4. Organisator
Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya. Semua diorganisasikan sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.
5. Inisiator
Dalam peranannya sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru harus diperbaiki, keterampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia pendidikan, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu. Bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.
6. Pembimbing
Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing. Peranan yang harus lebih di pentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya. Kekurangmampuan anak didik menyebabkan lebih banyak tergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan anak didik semakin berkurang. Jadi, bagaimanapun juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).
7. Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut  untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek intrinsik lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik. Oleh karena itu guru harus bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Jadi penilaian itu pada hakikatnya diarahkan pada perubahan kepribadian anak didik agar menjadi manusia susila dan cakap.
Sebagai evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran), tetapi juga menilai proses (jalannya pengajaran). Dari kedua kegiatan ini akan mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi edukatif yang telah dilakukan.





















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
A. Pengertian Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
1. Antropologi-sosiologi Masyarakat Urban
Kota adalah pusat kehidupan yang dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang pendekatan. Aspek tersebut memberikan gambaran bahwa kota menjadi tempat manusia atau masyarakat berperilaku mengisi aktifitas kehidupannya sehari-hari.
2. Antropologi-sosiologi Masyarakat Agraris/Pedesaan
Secara antropologisnya, masyarakat pedesaan menurut Paul H. Landis (1948) menyebutkan ciri- ciri kebudayaan tradisonal:
d. Pengaruh alam yang kuat juga mengakibatkan standar moral yang kaku, sehingga moralitas bagi masyarakat perdesaan merupakan hal yang bersifat absolut.
e. Kuatnya pengaruh alam terlihat pada pola kebiasaan hidup yang lamban (inertia), sehingga masyarakat desa sering dinilai statis.
f. Dominasi alam terhadap masyarakat desa juga mengakibatkan tebalnya kepercayaan mereka terhadap takhayul.
Sedangkan secara sosiologisnya, masyarakat perdesaan umumya masih menjunjung tinggi nilai kekerabatan, gotong royong dan kebersamaan.
B. Perbedaan Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
Perbedaan-perbedaan kehidupan kota dan desa masih cukup besar, bahwa penetrasi urban telah cukup jauh sampai ke pedalaman negeri. Namun, masalah perbedaan tingkat pendidikan merupakan kendala dan hambatan terjadinya pembaruan yang positif. Penetrasi kehidupan kota ke desa-desa yang mampu ditiru oleh penduduk pedesan lebih bersifat konsumtif, sehingga penetrasi tersebut lebih bersifat dominasi, seperti telah diuraikan diatas.


C. Peran Dan Kedudukan Guru PAI Dalam Antropologi-Sosiologi Masyarakat Urban Dan Masyarakat Agraris
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya “Guru Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, menyebutkan peranan guru agama Islam adalah seperti diuraikan di bawah ini:
1. Korektor
2. Inspirator
3. Informator
4. Organisator
5. Inisiator
6. Pembimbing
7. Evaluator














Daftar Pustaka
Batubara, Muhyi.  Sosiologi Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2004.
Djamarah , Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka
Cipta,2000
Menno, S. dan Mustamin Alwi, Antropologi Perkotaan, Jakarta: Rajawali Press, 1992
Nasution, S. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2004
Fergiyono,Nico, "Kondisi Fisik Sosial Budaya Masyarakat Perdesaan ". 7 Desember 2016
http://nicofergiyono.blogspot.co.id/2014/06/kondisi-fisik-sosial-budaya-masyarakat.html  




Share:

CHOOSE YOUR LANGUAGE

English French German Spain Italian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Followers


Traffic Visitor