My Moments with Some Educations

Pages

Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Thursday, November 24, 2016

Masha Allah.. Mahasiswa Amerika meneliti Pendidikan Agama Islam..

dhuha-mind.blogspot.com

Hari Rabu 23 November 2016 merupakan hari yang bersejarah bagi mahasiswa PAI di UIN SUNAN Kalijaga Yogyakarta. Mengapa bersejarah? Karena tepat di hari dan tanggal tersebut Keluarga Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan kedatangan tamu yang cukup menarik perhatian bagi mahasiswanya maupun para dosen FITK. Tamu tersebut jauh – jauh dari negara barat yaitu Amerika untuk melakukan penelitian menyangkut Pendidikan Agama Islam di SMA-SMA di Yogyakarta. Dengan kedatangan tamu internasional tersebut menggugah para mahasiswa untuk mengadakan sebuah forum dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam kemudian menyelenggarakan sebuah seminar yaitu Seminar Internasiona mengenai Outsider Perspektive dari dua pandangan Mahasiswa Luar negeri yang beragama Islam dan Seorang aktivis perdamain yang beragama Kristen.

Seminal internasional Yang diadakan HMJ PAI tersebut memang tidak hanya sekedar isapan jempol semata karena memang seminar tersebut di awali pembukaan yang menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Setelah dibuka oleh MC, sambutan-sambutan dari para pembesar PAI tidak kalah untuk mengawali forum tersebut. Selepas sambutan-sambutan hangat usai giliran sang moderator yang menguasai jalannya diskusi pagi hari tersebut. Waktu sudah menunjukkan jam 09.00 saatnya moderator membuka jalannya diskusi dan membuka dengan hangat menggukan untaian-untaian kalimat berbahasa inggris yang dipadukan dengan kalimat-kalimat berbahasa indonesia.
dhuha-mind.blogpspot.com
Giliran pertama adalah dari Mas Bule bernama Sawyer Martin French yang biasanya dipanggil Martin. Mas Bule kemudian memulai untuk berbicara yang disambut hangat oleh para peserta seminar. Mas Bule yang berkata masih belum begitu lancar dalam berbahasa Indonesia menimbulkan logat kebule-an yang sangat terasa di tengah-tengah dia berbicara. Kurang lebih berikut ini point-point yang bisa saya catat dari presentasi Mas Bule :




- Tidak ada pendidikan agama di sekolah negri (amerika) namun ada pendidikan agama di sekolah swasta
- Jarang ada negara yg 100% sekuler, teokrasi (agama), dan lainnya
- Penelitian antropologi budaya, pesantren
- Penelitiannya lebih kepada intensitas PAI di sekolah negri di jogja
- Guru atau mentoring yg lebih berpengaruh ??
- Guru lebih netral dalam menyampaikan  materi pai ? (Ormas,parpol)
- Konteks islam itu sangatlah luas namun apa yg disorot dalam ruang kelas itu apa terlebih dari guru mengajar PAI itu sendiri
- Guru pai sangat berwibawa sehingga di percayai oleh siswanya
- Pai membentuk identitas generasi baru :
1. Penampilan busana (peci,jilbab)
2. Karakter baik, buruk, budaya bangsa (timur tengah marah2, indonesia lebih kalem)
- Pai membentuk pemahaman generasi baru

Dilanjut seakan tanpa sekat yaitu pembicara kedua yang jauh-jauh dari daerah timur tepatnya Maluku. Usia yang sudah terbilang ibu-ibu namun semangatnya bahkan bisa dibilang lebih muda dari anak Anak Baru Gede (ABG). Ibu Elsye Syauta Latuheru memulai presentasinya dengan semangat yang berkobar-kobar menceritakan bagaimana maluku itu dari dulu hingga sekarang. Berikut merupakan point-point yang saya catat dari penyampaian ibu Elsye :
- maluku tidak ada perbedaan agama mereka semua saudara
- provinsi termiskin namun terbahagia
- sempat ada kemelut islam-nasrani (1999-2002)
- membentuk komunitas relawan BADATI (bersama utk berbagi) di rumahnya dan saling menjalin persaudataan (islam,nasrani) 2011
- islam bukan keras, islam juga mengajarkan cinta kasih (pespektif kristen)
- tidak ada yg salah dari kekerasan namun tidak ada kata terlambat utk menanam benih kebaikan
- maluku daerah ter toleransi nomer 1 di indonesia

Dua pemateri dalm seminat internasional tersebut sangatlah luar biasa dengan materi-materi presentasi yang sederhana namun disajikan atau disampaikan dengan cara yang berbeda dan menarik untuk didengar.

Kesimpulan yang saya dapat simpulkan adalah Agama itu merupakan hal yang pokok yang dibutuhkan untuk siapa saja baik itu muda, tua, paham agama, awam agama. Agama dibutuhkan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, kebutuhan rohani, bahkan bersosialisasi. Tanpa Agama kita tidak bisa mengontrol diri kita sehingga kita bisa seenaknya berperilaku yang tidak benar dan membahayakan satu sama lainnya.

Cukup sekian postingan saya kali ini semoga bisa bermanfaat bagi pembaca. Saya sangat berharap kritikan masukan dari pembaca untuk perbaikan tulisan ini kedepannya. Salam

Share:

Wednesday, September 16, 2015

Resah di Tengah Hiruk Pikuknya Perkotaan


Macet di hari dan suhu yang lagi panas-panasnya pasti membuat sebagian besar masyarakat menjadi resah dan kesal. Apalagi dibarengi dengan jadwal yang dituntut untuk segera datang tepat pada waktunya. Kondisi jalanan yang macet di setiap harinya sangatlah menguras amarah dan yang jelas sangat membuang-buang waktu. Bagaimana tidak membuang-buang waktu? Yang seharusnya perjalanan di tempuh hanya 1 jam karena kondisi jalan yang macet, bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, bahkan lebih. Gedung-gedung yang semakin banyak juga menjadikan jalan raya menjadi semakin padat dan sempit. Macet yang biasa terjadi itu pada jam-jam berangkat sekolah, pulang sekolah, berangkat kerja dan pulang kerja. Terus begitu bahkan macet bisa menjadi tradisi di suatu kota. Bukan hanya di perkotaan saja, namun kemacetan juga sudah mulai merambah ke daerah pedesaan. Hal itu bisa saja terjadi karena dilihat dari faktor semakin padatnya daerah perkotaan dan mau tidak mau  wilayah kota perlahan mengambil lahan di daerah pedesaan yang mulai membuat daerah di pedesaan ramai dan mungkin saja membuatnya menjadi macet seperti halnya di daerah pedesaan.

Pemerintahlah yang seakan menjadi bulan-bulanannya jika dikaitkan dengan kemacetan dengan dalih kalau yang bertanggungjawab tentang masalah kenegaraan itu adalah pemerintah. Sebenarnya macet itu tanggungjawab kita bersama hanya saja pemerintah yang mengusahakannya agar tidak ada kemacetan lagi yang terjadi. Sumber dari kemacetan sebenarnya itu adalah kita sendiri. Beda halnya jika kita tidak terlalu egois dalam berkendara. Maksud saya kenapa kita tidak menggunakan kendaraan umum yang telah disediakan pemerintah kepada kita? Kenapa kita lebih memilih kendaraan pribadi kita? Padahal jika kita bisa menghilangkan ego kita, kita bisa sedikit mengurangi resiko kemacetan di jalan. Bayangkan jika 1 orang hanya menaiki 1 mobil saja padahal mobil sebegitu besarnya. Bukankah hal semacam itu hanya menambah resiko kemacetan saja? Apalagi di zaman sekarang ini mobil bisa didapatkan dari sistem kredit. Membeli mobil sekarang sangatlah mudah. Dan tanpa kita sadari hal semacam itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan. Walaupun itu merupakan penyebab yang kecil, pemerintah seharusnya lebih jeli lagi dalam hal menindak lanjuti hal yang sekecil apapun demi mengantisipasi masalah yang bisa dimungkinkan menjadi besar.

Jika membahas tentang kemacetan itu tidak terlepas dari pemerintahan dan kinerja dari kepolisian. Polisi dan kemacetan itu merupakan dua hal yang sangat berkaitan seakan tak terpisahkan. Dimana ada kemacetan di situlah kinerja polisi dipertanyakan. Polisi lalu lintas dituntut untuk bisa pandai dalam hal menanggulangi kemacetan. Walaupun tidak semua, polisi-polisi nakal banyak yang menyalahi aturan dalam beretika berkendara. Banyak yang menerobos lampu lalu lintas maupun tidak manaati rambu-rambu lalu lintas. Hal semacam itu tidak selayaknya dicontoh oleh kita. Apalagi banyak polisi nakal yang membuka “lapak” sembarangan dan menilang tanpa adanya surat keterangan yang resmi. Dengan cara semacam itu polisi nakal bisa meraup keuntungannya. Bukankah itu sesuatu yang tidak baik jika dilakukan seenaknya dan mementingkan kepentingan pribadi? Lagi-lagi seharusnya pemerintah lebih lebar membuka matanya. Tetapi tidak juga semua polisi berbuat tindakan yang tidak patut dicontoh seperti itu. Masih ada juga yang berbuat sebagaimana mestinya seorang polisi bertugas dalam memenuhi tanggungjawabnya. Ya seperti itulah polisi yang seharusnya.


Polisi dalam hal menanggulangi kemacetan seharusnya bisa tanggap jika melihat kemacetan. Tidak hanya jika diberi komando saja tetapi harus ada inisiatif sendiri. Namun tetap harus ijin dahulu dari pihak yang berwenang dan tidak bertindak seenaknya mengatur lalu lintas. Polisi harusnya siap, sigap di saat jam-jam yang biasanya terjadi kemacetan. Polisi lalu lintas juga harus tegas dalam menindak lanjuti para pengendara yang tidak patuh aturan dan tidak mengenakan pengaman dalam berkendara. Pemerintah haruslah tegas bertindak. Sebuah negara tidak memerlukan polisi lalu lintas yang hanya bekerja seenaknya sendiri namun negara memerlukan polisi lalu lintas yang mampu mengemban amanah dan tanggungjawabnya. Semoga kepolisian lalu lintas semakin baik dari hari ke hari. 
Share:

Tuesday, December 16, 2014

Fakultas yang ada di Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta



Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam perjalanannya telah menjadi center of excellence dalam bidang ilmu-ilmu keislaman serta dijuluki sebagai feeder bagi UIN lainnya. Dalam perkembangan terakhirnya, UIN Sunan Kalijaga memiliki tujuh Fakultas, yaitu fakultas Adab, Dakwah, Syari'ah, Tarbiyah, Ushuluddin, Sains dan Teknologi, dan Ilmu Sosial dan Humaniora. Ditambah lagi program Pascasarjana. Dengan 24 program studi dan kurikulum yang terus dievaluasi serta disempurnakan agar semakin relevan dengan tuntutan zaman, UIN Sunan Kalijaga membekali dan mengantarkan mahasiswa siap terjun ke dunia kerja dan wiraswasta. UIN Yogyakarta diberi nama Sunan Kalijaga, nama seorang Walisongo, tokoh penyebar Islam di Indonesia. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga memiliki 8 fakultas, yaitu:
  • Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
    • Program Studi Bahasa dan Sastra Arab
    • Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam
    • Program Studi Ilmu Perpustakaan
    • Program Studi Bahasa Inggris
  • Fakultas Dakwah
    • Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
      • Broadcasting
      • jurnalistik
    • Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam
      • Konseling Islam pada Keluarga dan Masyarakat
      • Konseling Islam pada Sekolah/Madrasah
    • Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam
    • Program Studi Manajemen Dakwah
      • Manajemen Sumber Daya Manusia
      • Manajemen Lembaga Keuangan Islam
  • Fakultas Syari'ah dan Hukum
    • Program Studi Al-Ahwal al-Syakhsyiyyah
    • Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum
    • Program Studi Jinayah Siyasah
    • Program Studi Muamalat
    • Program Studi Keuangan Islam
    • Program Studi Ilmu Hukum
  • Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
    • Program Studi Pendidikan Agama Islam
    • Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
    • Program Studi Kependidikan Islam
    • Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
  • Fakultas Ushuluddin
    • Program Studi Aqidah dan Filsafat
    • Program Studi Perbandingan Agama
    • Program Studi Tafsir dan Hadis
    • Program Studi Sosiologi Agama
  • Fakultas Sains dan Teknologi
    • Program Studi Matematika
    • Program Studi Fisika
      • Elektronika dan Instrumentasi
      • Fisika Matrial
      • Atom dan Inti
      • Astrofisika
      • Geofisika
    • Program Studi Kimia
    • Program Studi Biologi
    • Program Studi Teknik Informatika
    • Program Studi Teknik Industri
    • Program Studi Pendidikan Matematika
    • Program Studi Pendidikan Kimia
    • Program Studi Pendidikan Biologi
    • Program Studi Pendidikan Fisika
  • Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
    • Program Studi Psikologi
    • Program Studi Sosiologi
    • Program Studi Ilmu Komunikasi
      • Public Relations
      • Advertising
  • Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Central Of Excellent Faculty)
    • Program Studi Ekonomi Syari'ah
    • Program Studi Perbankan Syari'ah

 Daftar Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  1. KHR Moh Adnan (1951-1959)
  2. Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
  3. Prof. RHA Soenarjo, SH (1960-1972)
  4. Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976)
  5. Prof. H. Zaini Dahlan, MA (1976-1983)
  6. Prof. Dr. HA Mu'in Umar (1983-1992)
  7. Prof. Dr. Simuh (1992-1996)
  8. Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar (1997-2001)
  9. Prof. Dr. HM. Amin Abdullah (2001-2010)
  10. Prof. Dr. H. Musa Asy’arie (2010-Sekarang)
Share:

Wednesday, November 19, 2014

Ingat Etika, Agama, dan Stop Korupsi !



Hai anda yang merasa Indonesia. Apakah anda bangga menjadi warga Indonesia? Pastilah bangga menjadi warga Indonesia dengan segala kekayaan negri yang ada. Hanya yang disayangka sebagian pemerintah membuatnya tidak menjadi yang terbangga melainkan menurunkan harga diri negara dengan melakukan yang tidak patut seperti korupsi. Korupsi diartikan sebagai perbuatan yang berkaitan dengan kepentingan publik atau masyarakat luas untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok tertentu.
Tindak pidana korupsi secara spesifik ada tiga fenomena yang tercakup dalam istilah korupsi, yaitu:

1.       Penyuapan (bribery)
2.       Pemerasan (extraction)
3.       Nepotisme (nepotism)

Kejahatan korupsi juga termasuk ke dalam kejahatan ekonomi, hal ini bisa dibandingkan dengan anatomi kejahatan ekonomi yakni penyamaran atau sifat tersembunyi maksud dan tujuan kejahatan, keyakinan si pelaku terhadap kebodohan dan kesembronoan si korban, penyembunyian pelanggaran. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mensyaratkan beberapa karakteristik unsur-unsur tindak pidana yang salah satunya yakni perbuatan melawan hukum yang dalam penerapannya menjadi permasalah di dalam praktek sistem peradilan tindak pidana korupsi terutama menyangkut perbuatan melawan hukum materil. 
Dalam hal ini korupsi sangatlah merugikan bagi sistem pemerintahan itu sendiri terlebih kalangan masyarakat bawah yang merasakan dampaknya secara langsung. 


ETIKA DAN RELIGIUSITAS ANTI KORUPSI


ETIKA ANTI KORUPSI


Adapun dasar pengadilan yang menerapkan perbuatan melawan hukum materil pada tindak pidana korupsi adalah perbuatan korupsi sebagai perbuatan tercela yang disebabkan tidak sesuai dengan rasa keadilan dan norma-norma kehidupan sosial di masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari Putusan Mahkamah Agung No. 2608 K/Pid/2006 dalam perkara tindak pidana korupsi dengan melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Oleh karenanya etika dalam berkorupsi itu merupakan perbuatan yang tercela dan beretika untuk berkorupsi itu tidak ada karena korupsi itu sendiri sudah merupakan perbuatan yang tidak baik. Etika yang ada adalah etika dalam menghindari atau mencegah korupsi itu sendiri. Seperti melatih kita untuk berbuat jujur sejak dini, memikirkan orang lain bukan hanya memikirkan kepentingan pribadi, melatih untuk peduli kepada yang lebih membutuhkan, bila kebutuhan pribadi sudah berkecukupan maka bersikaplah agar tidak tamak akan harta yang lebih.
 


RELIGIUSITAS ANTI KORUPSI
Setiap warga negara  memiliki kepercayaan akan adanya Tuhannya masing-masing. Kaitannya dengan berkorupsi adalah kadar dosa yang diperbuat oleh koruptor sangatlah besar. Setiap agama pastinya tidak mengajarkan setiap umatnya agar menindas yang lemah. Apalagi berbuat kecurangan dan mengambil yang bukan haknya. Disini bisa diambil kesimpulan bahwa korupsi itu merupakan perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak ada agama yang menyarankan agar kita berkorupsi. Oleh karena itu sebagai makhluk Tuhan yang bisa dibilang mengerti akan dosa marilah kita benahi perilaku kita yang masih keliru lagi tercela. Semoga kita dijauhkan dengan perbuatan syaitan seperti KORUPSI. Aamiin...
 
SUMBER : Globethics
Share:

Saturday, November 15, 2014

Pengertian Fenomenologi


1.Pengertian Fenomenologi

Pengertian Fenomenologi


            Fenomenologi sekarang dikenal agak umum dan terutama menjadi populer sekitar tahun 50-an [1]. Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat karena bercakupan. Dalam bahasa Indonesia biasa dipakai istilah gejala. Jadi, fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang menampakkan diri.
            Tokoh fenomenologi yang terkenal adalah Edmund Husserl (1859-1938), ia adalah pendiri fenomenologi. Selaku pendiri aliran fenomenologi, Hussserl telah mempengaruhi filsafat abad kita ini secara amat mendalam. Husserl berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Adapun inti pemikiran fenomenologi menurut Husserl adalah bahwa untuk menemukan pemikiran yang benar, seseorang harus kembali kepada “benda-benda” sendiri. Dalam bentuk slogan pendirian ini mengungkapkan dengan kalimat Zu Den Sachen (to the things). Kembali kepada “benda-benda” dimaksudkan adalah bahwa “benda-benda” diberi kesempatan untuk berbicara tentang hakikat dirinya. Pernyataan tentang hakikat “benda-benda” tidak lagi tergantung kepada orang yang membuat pernyataan, melainkan ditentukan oleh “benda-benda” itu sendiri.
            Akan tetapi “benda-benda” tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat sendiri. Apa yang kita temui pada “benda-benda” itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama tidak membuka tabir yang menutupi hakikat, maka diperlukan pemikiran kedua. Alat yang digunakan untuk menemukan pada pemikiran kedua ini adalah intuisi dalam menemukan hakikat adalah Wesenchau, melihat (secara intuitif) hakikat gejala-gejala.
Dalam usaha melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi. Yang dimaksud reduksi dalam hal ini adalah penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan intuisi dilakukan. Reduksi  juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan oleh Husserl adalah epoche, yag artinya sebagai penempatanan sesuatu di antara dua karung. Namun yang dimaksud adalah “melupakan pengertian-pengertian tentang obyek untuk sementara dan berusaha melihat obyek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengetian-pengertian yang ada sebelumnya”. Reduksi ini adalah salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. Untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenologis bersikap netral. Tidak menggunakan teori-teorti atau pengertian-pengertian yang telah ada dalam hal ini diberi kesempatan “berbicara tentang dirinya sendiri”.
2.Reduksi Fenomenologi
Ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis, yaitu:
a.       Reduksi Fenomenologis
Fenomena seperti di atas adalah menampakkan diri. Reduksi pertama ini merupakan “pembersihan diri” dari segala subjekivitas yang dapat mengganggu perjalanan realitas itu. Kebiasaan-kebiasaan dan pandangan-pandangan yang telah membentuk pikiran kita memandang sesuatu (fenomena) sehingga yang timbul di dalam kesadaran adalah fenomena itu sendiri. Karena itulah reduksi ini disebut fenomenologis.
b.      Reduksi Eidetis
Eidetis berasal dari kata eidos, yaitu inti sari. Reduksi eiditis ialah penyaringan atau penempatan di dalam kurung. Dengan reduksi eidetic, semua segi, aspek, dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan. Karena aspek dan profil tidak pernah menggambarkan obyek secara utuh. Untuk menentukan apakah sifat-sifat tertentu adalah hakikat atau bukan, Husserl memakai prosedur mengubah contoh-contoh. Ia menggambarkan contoh-contoh tertentu yang representative melukiskan fenomena. Kemudian dikurangi atau ditambahkan salah satu sifat. Reduksi eidetis ini menunjukkan bahwa dalam fenomenologi kriteria kohersi berlaku. Artinya, pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap obyek harus dapat disatukan dalam suatu horizon yang konsisten.
c.       Reduksi Fenomenologi-Transendental
Reduksi ini dengan sendirinya bukan lagi mengenai objek, atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. Dengan demikian, yang tinggal sebagai hasil reduksi ini adalah aktus kesadaran sendiri. Kesadaran yang ditemukan adalah kesadaran yang bersifat murni atau transcendental, yaitu yang ada bagi diriku di dalam aktrus-aktrus. Dengan singkat dapat disebut atau “aku” transendental.
Dalam hai ini “aku” transendental mengkonstitusi esensi-esensi umum. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya Husserl menyadari bahwa obyek-obyek pada umumnya tidak terlepas dari proses sejarah dan budaya. Artinya, sejarah dan budaya mempunyai saham dalam memahami obyek-obyek. Kursi misalnya tidak jelas maknanya bagi seseorang yang tetap hidup di hutan, atau tidak akan dipahami maknya kecuali oleh sebagian orang-orang India bagian selatan. Obyek yang disadari baru menjadi realitas bagi satu subyek, sedangkan subyek lebih dari satu. Untuk menghindari ini, Husserl membuat reduksi, lebenswelt (dunia yang hidup atau dunia manusia umum). Dengan reduksi ini, apa yang disadari adalah realitas absolute dari fenomena, meliputi seluruh perspektifnya. Dan “aku” transendental dari subyek berubah menjadi “aku” transendental antar subyek. Ini yang ditempuh Husserl untuk menghindari solipisme (teori bahwa satu-satunya pengetahuan yang mungkin adalah pengetahuan diri sendiri) fenomenologis[2].

3. Periode Fenomenologi
a.       Periode pra-fenomenologi: 1887-1901
Periode ini sesuai dengan gaya buku besar yang pertama: Logische Untersuchugen (1900-1901; cetakan ke-2, 1913-1921), jilid pertama. Pada waktu itu ia mengajar filsafat di Halle, sebagai dosen ‘tamu’.
b.      Periode fenomenologis sebagai usaha epistemologis yang terbatas: 1901-1906.
Ia megajar filsafat di Gottingen, dengan mulai sebagai dosen tidak tetap, 1901-1906. Selama periode kedua ini ia mulai menyelidiki tipe-tipe murni di antara pengalaman-pengalaman logis, seusai dengan obyeknya. Dan berhubungan dengan itu ia juga mulai memperkembangakan metode fenomenologis.
c.       Periode fenomenologis menologis murni, sebagai dasar umum bagi filsafat dan ilmu: 1907-1935. Ia mengajar terus di Gottingen dulu; kemudian menjadi guru-besar di Freiburg (1916-1929). Antara 1913-1930  ia mengumpulkan kelompok asisten dan mahasiswa yang sangat dekat: antara lain Pfander, Scheler, Heidegger, Reinach, Concrad-Martinus, Ingarden, Fink, Farber. Namun caranya berfilsafat selalu agak bersifat monolog . Dan pada umumnya ia merasa terisolir.
d.      Periode pengatasan idealisme: 1935-1938[3].


Kesimpulan
            Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat karena bercakupan. Dalam bahasa Indonesia biasa dipakai istilah gejala. Jadi, fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang menampakkan diri. Tokoh fenomenologi yang terkenal adalah Edmund Husserl (1859-1938), ia adalah pendiri fenomenologi. Selaku pendiri aliran fenomenologi, Hussserl telah mempengaruhi filsafat abad kita ini secara amat mendalam. Husserl berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Adapun inti pemikiran fenomenologi menurut Husserl adalah bahwa untuk menemukan pemikiran yang benar, seseorang harus kembali kepada “benda-benda” sendiri. Dalam menemukan fenomenlogi perlu adanya tiga reduksi dalam melakukan pendekatan ke fenomenologi yaitu:
a.       Reduksi Fenomenologis
b.      Reduksi Eidetis
c.       Reduksi Fenomenologi-Transendental

            Tujuan dari semua reduksi ini adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi sebagai fenomena asli dalam kesadaran manusia. Akan tetapi, di dalam filsafatnya, Husserl akhirnya menjurus pada idealisme transendental dan diceritakan bahwa hal itu bertentangan dengan tujuan semula. Namun, bagaiman jalan keluar yang ditempuhnya dalam menyelesaikan masalah itu sampai akhir hayatya, tidaklah jelas.
            Pendekatan fenomenologi ini sangat besar pengaruhnya di dalam filsafat belakangan ini. Bahkan juga pendekatan ini digunakan dalam ilmu-ilmu sosial dan matematika. J.F. Donceel, misalnya, telah menggunakan pendekatan fenomenologi dalam memahami manusia di dalam ukunya, Philosophical Antropology. Roger Garaudy juga menggunakan pendekatan fenomenologi dalam usahanya memahami filsafat, sejarah politik,kebudayaan-kebudayaan dan agama[4]


Daftar Pustaka
Bertens, K, Filsafat Barat Abad XX Inggris Jerman (Jakarta:Gramedia,1983)
Bakker, Anton, Metode-metode Filsafat ,(Glalia Indonesia, 1984)
Prajaya, Juhaya S. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2010)


[1] K.Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris Jerman (Jakarta:Gramedia,1983) hal. 99
[2] Juhaya S. Prajaya, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 179-184
[3] Anton Bakker, Metode-metode Filsafat,(Glalia Indonesia, 1984), hal.107-108.
[4] Juhaya S. Prajaya, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 185
Share:

CHOOSE YOUR LANGUAGE

English French German Spain Italian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Followers


Traffic Visitor

Flag Counter