My Moments with Some Educations

Pages

Saturday, May 28, 2016

Puisi "Suara Hati"


Suara Hati

Karya : Nur Sahid

`
Angin malam menari di depan ku            
Memberikan kehangatan dalam kasih
Telah lama ku nantikan saat-saat seperti ini
Inilah ingin ku, tak ada yang lain
                  

Ku ingin mengatakan sesuatu
Namun...
Bibir ku seakan telah terkunci rapat
Kata-kata ku...
Tak mampu ku ucapkan

Sebelum terlambat...
Sebelum sang fajar di bola matanya tampak


Kata-kata ku...
Lebih daripada apapun di dunia..
Karena...Mungkin saja..
ini kesempatan terakhirku..
Bersamanya...


Kata-kata ku...
Telah tersimpan indah di dalam kotak batin ku
Ku bersimpuh di hadapan mu
Wahai ayah dan ibu..
Maafkanlah anakmu ini
Hanya cinta dan kasih sayang mu yang membuatku menjadi anak yang berbakti
Dan...

Hanya do’amu yang dapat membuatku bertahan menjalani kehidupan ini
Share:

Wednesday, September 16, 2015

Resah di Tengah Hiruk Pikuknya Perkotaan


Macet di hari dan suhu yang lagi panas-panasnya pasti membuat sebagian besar masyarakat menjadi resah dan kesal. Apalagi dibarengi dengan jadwal yang dituntut untuk segera datang tepat pada waktunya. Kondisi jalanan yang macet di setiap harinya sangatlah menguras amarah dan yang jelas sangat membuang-buang waktu. Bagaimana tidak membuang-buang waktu? Yang seharusnya perjalanan di tempuh hanya 1 jam karena kondisi jalan yang macet, bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, bahkan lebih. Gedung-gedung yang semakin banyak juga menjadikan jalan raya menjadi semakin padat dan sempit. Macet yang biasa terjadi itu pada jam-jam berangkat sekolah, pulang sekolah, berangkat kerja dan pulang kerja. Terus begitu bahkan macet bisa menjadi tradisi di suatu kota. Bukan hanya di perkotaan saja, namun kemacetan juga sudah mulai merambah ke daerah pedesaan. Hal itu bisa saja terjadi karena dilihat dari faktor semakin padatnya daerah perkotaan dan mau tidak mau  wilayah kota perlahan mengambil lahan di daerah pedesaan yang mulai membuat daerah di pedesaan ramai dan mungkin saja membuatnya menjadi macet seperti halnya di daerah pedesaan.

Pemerintahlah yang seakan menjadi bulan-bulanannya jika dikaitkan dengan kemacetan dengan dalih kalau yang bertanggungjawab tentang masalah kenegaraan itu adalah pemerintah. Sebenarnya macet itu tanggungjawab kita bersama hanya saja pemerintah yang mengusahakannya agar tidak ada kemacetan lagi yang terjadi. Sumber dari kemacetan sebenarnya itu adalah kita sendiri. Beda halnya jika kita tidak terlalu egois dalam berkendara. Maksud saya kenapa kita tidak menggunakan kendaraan umum yang telah disediakan pemerintah kepada kita? Kenapa kita lebih memilih kendaraan pribadi kita? Padahal jika kita bisa menghilangkan ego kita, kita bisa sedikit mengurangi resiko kemacetan di jalan. Bayangkan jika 1 orang hanya menaiki 1 mobil saja padahal mobil sebegitu besarnya. Bukankah hal semacam itu hanya menambah resiko kemacetan saja? Apalagi di zaman sekarang ini mobil bisa didapatkan dari sistem kredit. Membeli mobil sekarang sangatlah mudah. Dan tanpa kita sadari hal semacam itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan. Walaupun itu merupakan penyebab yang kecil, pemerintah seharusnya lebih jeli lagi dalam hal menindak lanjuti hal yang sekecil apapun demi mengantisipasi masalah yang bisa dimungkinkan menjadi besar.

Jika membahas tentang kemacetan itu tidak terlepas dari pemerintahan dan kinerja dari kepolisian. Polisi dan kemacetan itu merupakan dua hal yang sangat berkaitan seakan tak terpisahkan. Dimana ada kemacetan di situlah kinerja polisi dipertanyakan. Polisi lalu lintas dituntut untuk bisa pandai dalam hal menanggulangi kemacetan. Walaupun tidak semua, polisi-polisi nakal banyak yang menyalahi aturan dalam beretika berkendara. Banyak yang menerobos lampu lalu lintas maupun tidak manaati rambu-rambu lalu lintas. Hal semacam itu tidak selayaknya dicontoh oleh kita. Apalagi banyak polisi nakal yang membuka “lapak” sembarangan dan menilang tanpa adanya surat keterangan yang resmi. Dengan cara semacam itu polisi nakal bisa meraup keuntungannya. Bukankah itu sesuatu yang tidak baik jika dilakukan seenaknya dan mementingkan kepentingan pribadi? Lagi-lagi seharusnya pemerintah lebih lebar membuka matanya. Tetapi tidak juga semua polisi berbuat tindakan yang tidak patut dicontoh seperti itu. Masih ada juga yang berbuat sebagaimana mestinya seorang polisi bertugas dalam memenuhi tanggungjawabnya. Ya seperti itulah polisi yang seharusnya.


Polisi dalam hal menanggulangi kemacetan seharusnya bisa tanggap jika melihat kemacetan. Tidak hanya jika diberi komando saja tetapi harus ada inisiatif sendiri. Namun tetap harus ijin dahulu dari pihak yang berwenang dan tidak bertindak seenaknya mengatur lalu lintas. Polisi harusnya siap, sigap di saat jam-jam yang biasanya terjadi kemacetan. Polisi lalu lintas juga harus tegas dalam menindak lanjuti para pengendara yang tidak patuh aturan dan tidak mengenakan pengaman dalam berkendara. Pemerintah haruslah tegas bertindak. Sebuah negara tidak memerlukan polisi lalu lintas yang hanya bekerja seenaknya sendiri namun negara memerlukan polisi lalu lintas yang mampu mengemban amanah dan tanggungjawabnya. Semoga kepolisian lalu lintas semakin baik dari hari ke hari. 
Share:

Saturday, September 12, 2015

LDR di Mata Para Personil Paperboy Band (Download Paperboy Band - LDR.mp3)




LDR ? Siapa kini yang tidak mengenal singkatan tersebut? Banyak diantaranya mengartikan LDR atau Long Distance Relationship adalah suatu hubungan dimana hubungan seperti pacaran yang hanya di dunia maya atau hubungan yang sedang dijalani tanpa adanya interaksi langsung. Aku tidak ingin membahas arti mainstreamnya tetapi ingin membahas yang lainnya. LDR menurut Paperboy sendiri adalah Lali Duwe Relationship atau dalam bahasa Indonesianya artinya adalah Lupa Punya Hubungan. Mereka sengaja mendesign lagu seperti itu bisa jadi karena ada diantara mereka yang mempunyai pengalaman persis seperti judul dan materi di dalam lagu tersebut. Liriknya 100% berbahasa jawa dan ini merupakan lagu pertama mereka yang mengusung lirik yang berbahasa jawa. Lagu ini sekaligus mengisyaratkan bahwa band satu ini memang berasal dari Yogyakarta dilihat dari liriknya yang berbahasa jawa. Sangat disayangkan mereka sedikit menambahkan kata kasar di dalamnya. Emm.. selagi banyak yang bersifat positif dalam materi lagu mereka, kata kasar itu tidak terlalu berpengaruh. Hanya saja perlu pengawasan dalam mendengarkan lagu tersebut ke anak-anak, takutnya menjadi penambah kosakata mereka dan bisa jadi kebisaan mereka berucap kata kotor. Yang jelas lagu ini berisi tentang kisah dimana seorang pecinta yang digantungkan perasaannya kemudian pecinta tersebut terlalu lama menunggu kepastian dari orang yang dicintainya lalu si pecinta tersebut lupa karena saking lamanya menunggu kepastian. Namun dengan hal tersebut si pecinta terus kemudian tidak menyerah begitu saja. Dia melupakan dan mencari yang lebih mencintainya. Nasibnya begitu mengharukan ya? Yuk simak lagunya biar lebih bisa menjiwai.
Monggo langsung sikat aja lagunya. Liriknya nanti menyusul ya beroo..


Komentarnya ya kawan ditunggu saran kritiknya mengenai postingan ini. Sekian

Share:

Akulturasi agama dan budaya dalam Wiwit di Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Akulturasi agama dan budaya dalam Wiwit di Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman


-          Deskripsi :
Pada awal ingin memetik padi diadakan wiwit. Wiwit itu sendiri adalah acara memetik padi yang jumlah memetik padi itu berdasarkan jumlah hitungan jawa setelah memetik padi diadakan makan bersama, yang makanan itu disediakan oleh yang memiliki sawah bukan makan yang disediakan dari petaninya pemetik padinya sendiri-sendiri. Yang makanannya seperti nasi megana. Nasi megana biasanya itu terdiri dari sayuran seperti sayuran kluwih, kacang panjang, daun mlinjo yang masih muda. Kemudian lauknya seperti gereh pethek (gereh kecil-kecil) ataupun teri. Lalu seluruh sayuran dan lauk pauk itu dicampur bersama parutan kelapa muda dan nasi putih. Acaranya itu dilakukan oleh para ibu-ibu atau bapak-bapak tergantung petani yang mau memetik saat wiwit tersebut. Wiwit dilaksanakan pada umumnya di sawah karena acaranya memetik padi dan makan bersama. Situasinya pastilah senang karena wiwit tersebut diadakan saat musim panen. Wiwit tersebut dilakukan pada saat panen saja karena untuk bertujuan perwujudan dari rasa syukur telah diberi rejeki yang melimpah berwujud panen padi dari Allah SWT.

-          Unsur Agama
Walaupun tidak terlalu terlihat unsur agamanya tetapi unsur agamanya sebenarnya terlihat dari tujuan diadakannya tradisi wiwit tersebut. Karena tujuannya untuk mensyukuri rejeki dari Allah yang telah Allah berikan kepada pada petani dan kepada si pemilik sawah.

-          Unsur Budaya
Unsur budayanya adalah dari tradisi memetik padinya dan makan bersama dengan nasi megana. Karena tradisi itu tidak selalu ada dilapisan masyarakat oleh karena itu budaya tersebut yang menonjol. Dan dalam tradisi wiwit ada makan bersamanya disitu unsur kebersamaannya sangat kental budaya semacam itu seharusnya tidak ditinggalkan karena mampu memperkuat persatuan.

-          Komentar

Tradisinya mampu mempersatukan dari unsur budaya dan unsur agama menjadi satu kesatuan yang baik. Tradisinya tidaklah melenceng dari syariat agama karena tujuannya adalah mensyukuri rejeki dari Allah. Kebersamaannya seperti makan bersama mampu mempererat tali silaturahmi dan mampu menciptakan suasana kebersamaan sehingga perpecahan bisa saja terhindarkan. Tradisi semacam wiwit tersebut patut dilestarikan dan jangan ditinggalkan karena selain mempererat hubungan dengan Allah dan manusia, tradisi tersebut juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan para pemetik padi sehingga tidak hanya bermanfaat bagi pemilik sawah namun juga bermanfaat bagi para pemetik padi tradisi wiwit tersebut.
Share:

Download Paperboy Band - Mendakilah.mp3




Paperboy? Mungkin diantara kalian menganggapnya hanya sebutan tukang koran. Ya begitulah mereka menamai "kelompok" mereka. Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini terlalu jauh karena info band itu sebenarnya sudah ada dipostingan blogku yang dulu-dulu. Band yang mengusung aliran SKA itu mungkin belum terlalu terkenal di telinga para penyuka musik di tanah air ini, namun band satu ini bisa dibilang sudah mulai mengharum di tanah kelahirannya yaitu Yogyakarta. Yampun aku banyak omong lagi soal band ini. Tetapi ya bagaimana lagi memang band ini tengah naik daun di kalangan band indie Yogyakarta. Perlahan namun pasti mereka mulai ada dimana-mana event Yogyakarta dimana-mana. Lagu-lagu mereka mulai bermunculan atas kreatifitas mereka menyikapi keadaan. Tentu saja dengan khas mereka dalam berkarya. Lagu yang aku ingin share kali ini adalah lagu mereka yang berjudul "Mendakilah". Lagu ini bukan semata-mata hanya khusus untuk para pendaki. Arti mendaki yang mereka maksud adalah melangkah lebih tinggi lagi dan berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Inti yang dapat aku ambil ya sekedar itu. Mungkin diantara kalian bisa mengambil hal yang lain dalam lagu itu. Silahkan jika ingin menyimak lebih lanjutnya. tinggal klik link download di bawah gan jika ingin menikmati karya mereka.


BONUS


Dan jika ada yang ingin tau liriknya bisa kasih permintaannya di kolom komentar ya. Salam komentar sehat!

Share:

Wednesday, September 9, 2015

Cerpen "Hadiah Terindah"

HADIAH TERINDAH


            Pagi mulai memunculkan sinarnya. Aji panggilan akrab anak itu sibuk dengan kayuhan sepedanya yang bernafsu ingin segera tiba di sekolahannya. Aji bisa dibilang anak yang berbeda dengan anak SMA kebanyakan. Dia sangatlah suka bergaul namun dengan sejumlah buku, sementara teman-temanya malah dianggap angin lalu. Dan letak perbedaan selanjutnya dia tidak pernah merasakan kejutan, kekagetan, keseruan, meniup lilin ulang tahun di hari ulang tahunnya sendiri. Ya, memang sangatlah miris sekali Aji mungkin karena Aji sendiri yang kurang memiliki sifat supel terhadap semua temannya dan begitulah efeknya. Orang tua yang membesarkannya pun telah larut dalam sibuknya dunia kerja, sehingga orang tuanya tak begitu memperdulikan ulang tahun Aji.
            Orang tua Aji sebenarnya bukan orang tua yang bekerja dengan hasil kerja yang berkecukupan. Orang tuanya hanya orang desa yang diberi pekerjaan oleh saudaranya di kota. Orang tuanya diangkat sebagai pramuniaga di supermarket yang cukup ternama di kota dan diberi ijin tempat tinggal di belakang supermarket tersebut. Ya begitulah tempat tinggal Aji bersama dua orang terkasihnya, tepat di belakang supermarket yang bisa dibilang cukup sempit bahkan lebih sempit dari kolam renang di sinetron-sinetron. Dengan keadaan perekonomian seperti itu Aji tidak heran dan maklum jika orang tuanya lebih memilih sibuk kerja daripada sibuk memikirkan hari ulang tahunya, toh uang kerja dari hasil keringat orang tuanya juga sangat membantu Aji. Sebenarnya Aji tidak terlalu memikirkan ulang tahun konyol yang dipikirkan orang lain. Aji lebih asik dan lebih tertarik dengan buku bacaan pribadinya. Tapi entah kenapa tahun ini dia ingin sesuatu yang lebih menarik daripada hanya sekedar membaca. Terlintas dipikirannya rasa ingin taunya meniup lilin ulang tahun dan kejutan-kejutan di ulang tahunnya tahun ini. Namun di sisi lain dia sadar diri…
“Heh! Sahur! Sahur! Bangun woy! Serius amat yang ngelamunnya! Sadar woy sebentar lagi mau Ujian Akhir! Ini kantin bukan hotel bintang tujuh !” gertak Roy yang membuyarkan lamunannya.
“Eh! Ngapain sih Roy! Lagi sibuk ngelamun nih! Ndak tau betapa asiknya ngelamun ya!?” balas Aji.
“Emang kamu lagi ngelamunin apa? Ngelamunin Diana super bintang di kelas kita itu? Haha! Sadar diri Ji ! Dia besok mau dilamar orang!”
“Muke gile itu cewek! Gila aja aku mikirin dia. Aku ndak mikirin dia kok, aku mah apa atuh. Cuman lagi resah dan gusar aja”.
“kegusaran dan keresahan apa yang sedang melanda dirimu kawan? Ceritakan dan aku siap sebagai pendengar keluh kesahmu” kata Roy yang tak lupa menampilkan tampang kepastiannya.
“Terimakasih kawan telah berbaik hati, namun tak usahlah biar aku tanggung sendiri” jawab Aji sok keren.
“Halahh.. mukamu berlebihan tuh! Yasudah aku mau masuk kelas dulu ya. Sampai nanti” kata Roy yang mulai meninggalkan Aji.
Roy sendiri adalah teman lumayan akrabnya Aji. Seperti halnya Aji, Roy suka gemar membaca buku dari buku pelajaran hingga novel terlaris sekalipun, namun tidak untuk buku gambar karena itu untuk menggambar bukan untuk dibaca.
*******
Aji yang sudah tersadar dari lamunannya mulai bangkit dan menunjukkan jati dirinya. Dan dia teringat sesuatu kalau dia terlambat masuk kelas hingga membuat dia lari terkencing-kencing dan didasar sanubarinya dia berkata “Aduh makk.. hukuman apa nanti yang aku dapatkan?” Aji sampai di depan kelas dengan terengah-engah dan disambut oleh Bu Guru dengan jurus celotehannya. Akibat keterlambatannya, Bu Guru menghukumnya dengan menyuruh Aji membersihkan kamar mandi sekolah. Aji langsung terbirit-birit mengambil alat pembersih kamar mandi seadanya dan membersihkannya sebersih yang Aji mampu. Sembari mengosek dia menyelotehi dirinya sendiri.
Seharusnya tadi aku tidak perlu membayangkannya terlalu jauh! Begini kan jadinya!! Haahh!! Hari apa sih ini!? Apes amat nih hari! Eh bentar!!! Ini kan hari ulang tahunkuu!!!”
*******
Bel pulang sekolah pun berbunyi sekaligus sebagai pertanda mengakhiri hukuman yang diterima oleh Aji. Bergegas Aji membereskan segala peralatan hukumannya sembari menyeka keringat yang mulai mengering itu. Aji yang sudah kelelahan segera melaporkan hukumannya yang telah selesai kepada Bu Guru yang memberikan hukumannya tersebut dan Aji pun bersegera menuju rumahnya. Setibanya di rumah Aji dikagetkan dengan teriakan ibunya.
“Ajiii ! Sini nak!” Teriak sang ibu.
“Iya bu. Ada apa kok teriak-teriak histeris begitu?” Tanya Aji penuh heran.
“Ini ibu punya undangan dari PT Semen Abadi. Undangannya untuk menghadiri perayaan hari jadi PT Semen Abadi yang ke-39 tahun Ji. Aji mau nganterin ibu kan ke acara itu?” Jawab ibunya.
Sejenak Aji berkata dalam hati.. “Keren nih perusahaan.. Tanggal ulang tahunnya sama kayak tanggal kelahiranku.. tapi aku maleslah keluar malem, mending baca buku”. Kemudian Aji berkata kepada ibunya “aku males lah Bu. Mending di rumah lah” sahut Aji dengan wajah mengisyaratkan begitu malasnya anak itu untuk menghadiri acara tersebut.
“Ayolah Ji. Jarang-jarang loh ini acara. Mending ngehadiri acara ini lah daripada mbolak mbalikin lembaran bukumu di rumah.” Ajak ibu penuh harap.
“Sudah lah Ji. Anterin ibumu itu loh. Kasian dia sepertinya kebelet banget ngehadiri acara itu” kata Ayah Aji seraya menepuk pundak Aji dari belakang.
“Eh!? Ayah bikin kaget aku aja! Emm.. iya deh aku anterin”. Tanggap Aji pasrah.
*******
Hari mulai beranjak gelap. Matahari menyembunyikan sinarnya sedang bulan mulai menampakkan kehadirannya. Aji yang tak menyangka di hari ulang tahunnya akan merayakan hari jadinya ke-18 di tengah orang-orang hebat dan di dalam hotel megah bahkan termewah di antara sejumlah hotel di kota tempatnya tinggal. Dipersiapkannya motor yang akan dipergunakannya untuk mengantarkan ibunda tercinta ke acara tersebut.
“Bismillah semoga berkah” begitu lah kata Aji mengawali setiap langkah aktivitasnya.
Seusai sholat isya’ Aji dan ibunya langsung menuju ke hotel yang ada di undangan. Diperjalanan ibunya bertanya sesuatu kepada Aji.Tak terasa keberangkatan mereka berakhir di depan hotel yang tertera di undangan. Mudah betul mencarinya karena hotel tersebut tepat di depan kantor stasiun TV Nasional tertua di Indonesia. Mobil-mobil mewah silih berganti memasuki parkiran hotel membuat decak kagum Aji dan ibunya di pinggir jalan. Mereka sedikit malu dan ragu untuk segera masuk memarkirkan kendaraan mereka. Tiba-tiba malu dan ragu mereka hilang dengan melihat cukup banyaknya juga motor diparkiran. Mereka kemudian masuk dan menambah kekaguman mereka dengan ornament megah yang ada di dalam hotel. Mereka disambut oleh beberapa wanita dan disuruh untuk mengisi daftar hadir. Aji sangat antusias dengan grandprize dan doorprizenya. Wajar saja grandprizenya 1 mobil dan doorprizenya 7 motor. Wanita yang bertugas menyambut tamu berkata kepada ibu Aji
“Ibu, ini bagian yang untuk pengundian doorprizenya harap disobek ya. Bagian yang sobek kami pegang dan ibu membawa undangannya sebagai bukti valid jika ibu mendapatkan doorprize dari perusahaan kami. Semoga sukses, terimakasih atas kedatangannya”.
Mereka pun masuk dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Tanpa keraguan Aji dan ibunya langsung gabung mengantri untuk mengambil makan malam. Setelah mendapatkan makan malam, Aji menunggu ibunya yang masih mengantri seraya mencari kursi untuk makan, karena Agama mereka tidak mengajarkan untuk makan sambil berdiri. Selang beberapa menit akhirnya ibunya mendapatkan makan malamnya.
“Aji.. kenapa kamu clingak-clinguk seperti kebingungan begitu? Kamu kebelet buang air besar? Dijaga ya jangan buang angin di sini! Ibu malu lah!” Tanya ibu heran.
Bukan itu bu. Aku hanya mencari tempat duduk untuk makan. Tapi kenapa dari tadi tidak ada tempat duduk untuk makan? Yang benar saja kita makan sambil berdiri!!?” celoteh Aji dengan kesalnya.
“Ya bagaimana lagi nak? Mungkin ini efek dari budaya barat. Ya maumu gimana? Kita tidak makan saja atau bagaimana nak?” Tanya ibu bingung.
Tidak makan? Aku laper bu. Yaudah daripada makan berdiri kita cari pojokan aja dan makan slonjoran di pojokan itu” kata Aji yang tengah kelaparan.
Aji menepis segala malunya dan mulai menikmati suguhan nikmat yang Aji ambil. Aji dengan lahapnya makan seakan tanpa jeda. Sedang ibunya makan seperti orang kebanyakan makan. Ibunya bahkan tidak kuat untuk menghabiskannya karena tadi dari rumah, ibunya sudah makan. Tanpa diperintah Aji pun membantu menghabiskan makanan ibunya. Selepas mengisi penuh perut, suguhan selanjutnya adalah penampilan dari band-band lokal dan band nasional yang telah ternama. Ya, band nasional itu sudah dikenal di seantero nusantara NIDJI namanya. Seorang Aji tak terbayangkan bisa menikmati sajian gratis kualitas mahal se;perti ini. Beberapa lagu dari NIDJI seakan mengiringi kegembiraan Aji dan Ibunya. Hiburan band-band telah bernyanyian menghibur para tamu dan waktu yang ditunggu-tunggu oleh para tamu. Pengundian grandprize dan doorprize yang menuguras perhatian para tamu mulai diundi. Aji dan ibunya mungkin tidak berharap banyak namun keduanya tak lepas dari memohon kepada Allah untuk bisa memenangkan undian tersebut. Suasanapun menegang, namun ibunya terlihat menikmati kengantukannya. Grandprize mobil telah diundi namun sayang, nomer lain yang tersebutkan. Aji terus berdoa “setidaknya memboyong motor malam ini” gumam Aji. Enam buah motor telah mendapatkan hak miliknya tinggal satu buah yang masih menjadi rahasia illahi. Aji tak lepas untuk memohon kepada Allah..
“Ibu, ayo bantu Aji berdoa. Semoga bisa tembus Bu....” mohon Aji.
“Tembus ? ini undian Ji , bukan lagi togel. Iya pasti ibu bantu lah.” Kata ibu bersungguh-sungguh.
“Okee.. para hadirin.. siapkan jantung masing-masing. Dan inilah nomer undiannya yang berhak mendapatkan sepeda motor yang ke tujuh. Nomernya adalah........ 668 !!” kata pengisi acara penuh semangat.
Aji kemudian mengeceknya bahkan sampai 3 kali. Pengisi acara menunggu tamu yang memenangkan undian motor ke tujuh tersebut. Akhirnya dari tengah bangku tamu ada sesosok muda berlari menuju panggung dan meneriakkan seperti orang kesurupan “Aku menang! Aku menang !!!”. sosok muda yang berteriak tersebut ternyata Aji. Pelajar yang selama hidupnya belum pernah dirayakan ulang tahunnya malam itu mendapatkan hadiah sebuah sepeda motor dan terlebih bisa sepanggung bersama NIDJI karena waktu pembagian hadiah motor Nidji membersamai pemenang di atas panggung.Masih dalam keadaan setengah percaya dan tubuh gemetaran , Aji berkata dalam hatinya “terimakasih Yaa Allah. Ini kah hadiah yang Engkau persembahkan untukku ? ini kah jawaban atas doa-doaku selama ini ? Alhamdulillah”. Tak henti-hentinya Aji bersyukur bahkan di tengah perjalanan pulang Aji masih belum benar-benar percaya dan mengiranya ini hanya sebuah bunga tidurnya yang indah. Dan setibanya di rumah...
“Aji.. ibu mau ngomong.. sini nak duduk sama ibu di depan TV” ajak ibu
“mau ngomong apa Bu ? sebentar ya.” Kata Aji sambil memarkirkan motornya.
“begini nak. Emm.. Ibu takut nak.. sebenarnya undangan ke acara tadi itu untuk pemilik supermarket di depan rumah ini.. ibu takut kalau pihak perusahaan penyelenggara acara tadi menginformasikan ke pemilik supermarket kalau supermarketnya mendapatkan doorprize sepeda motor. Gimana nasib ibu nantinya ? tau kan kalau pemilik supermarket di depan itu orangnya mudah marah walaupun para karyawannya hanya berbuat kesalahan sedikit saja.” Kata ibu cemas.
“Haaa!!? Kenapa ibu tidak bilang dari tadi? Kita kan bisa konfirmasi ke pemilik supermarket untuk mewakili menghadiri undangan itu Bu.” tanya Aji turut cemas.
“Ndak tau nak.. sepertinya ibumu ini udah diarahkan ke undangan itu tanpa ijin terlebih dahulu ke pemilik supermarket” jawab ibu sebisanya.
“yasudah Bu. Besok dilihat saja semoga pemilik supermarket berbaik hati kepada kita” tanggap Aji .
dan benar saja, kecemasan aji dan ibunya terjawab sudah. Pagi-pagi sekali sang pemilik supermarket datang ke rumah Aji. Dengan marah yang sedikit dipendam si pemilik toko berkata kepada Aji dan ibunya.
“Assalamualaikum Budhe..” kata Surya si pemilik supermarket seraya mengetuk pintu rumah Aji. (Budhe adalah panggilan Surya ke ibunya Aji karena Surya adiknya ibunya Aji).
“wa’alaikumsalam.. Ada apa mas ? “tanya ibunya Aji ramah.

“Jadi begini.. apa benar Budhe yang menghadiri undangan dari PT Semen Abadi ? emm.. saya sudah banyak mengatakan jangan terlalu banyak kesalahan. Ini ditambah ada undangan tidak mengabari saya malah berangkat sendiri tanpa bilang ke saya dulu. Jadi sebaiknya Budhe dan sekeluarga ndak tinggal di sini lagi ke desa lagi saja mengurusi nenek di desa. Kasian beliau sudah tua perlu diurus. Dan mohon maaf sebelumnya.. mulai hari ini budhe tidak kerja di sini lagi. Sebaiknya mulai berkemas-kemas dari sekarang. Wassalamu’alaikum” kata surya dengan nada melembut dan meninggalkan Aji sekeluarga.Ibunya Aji kemudian menangis sejadi-jadinya dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Aji hanya bisa pasrah terhadap keputusan yang diberikan oleh Surya. Aji bergegas berberes-beres dan meninggalkan rumah yang membesarkannya dari sejak dia balita bahkan motor gratis pun tak dapat Aji kendarai ya begitulah bentuk amarah dari Surya. Aji tersadar bahwa inilah sebenarnya hadiah terindah yang dipersembahkan oleh Allah kepada Aji dan keluarganya.
Share:

CHOOSE YOUR LANGUAGE

English French German Spain Italian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Followers


Traffic Visitor

Flag Counter